Bedah Buku Seri I : Mengupas Sistem Pemilu Indonesia, Tantangan dan Harapan Demokrasi
Kotapinang, 15 Juli 2026, Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Labuhanbatu Selatan menggelar Bedah Buku Kepemiluan Seri I dengan menghadirkan Dr. Faisal Andri Marawa, S.IP., M.Si., seorang akademisi Universitas Sumatera Utara sekaligus salah satu penulis buku Sistem Pemilu Indonesia : Desain, Regulasi dan Tata Kelola Penyelenggaraan. Acar ini diikuti oleh Divisi Teknis Penyenggaraan KPU Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara beserta Kasubbag Teknis dan Hukum, Bawaslu Labuhanbatu Selatan, Akademisi serta mahasiswa yang dilaksanakan secara during melalui aplikasi Zoom.
Pembukaan Acara dan Pemantik
Kegiatan ini diharapkan memperkuat literasi kepemiluan, memperluar wawasan dan meningkatkan kapasitas penyelenggaraan pemilu. “Bedah Buku ini bukan hanya diskusi akademik, tetapi juga bekal praktis agar penyelenggaraan Pemilu berjalan jujur, adil dan berintegritas” tegas oleh Adnan Rasyid Ketua KPU Kabupaten Labuhanbatu Selatan
Sementara itu, Eben Ezer Lumbantoruan Divisi Teknis Penyelenggaraan menambahkan “Literasi kepemiluan adalah bagian dari transparasi KPU. Dengan memahami desain sistem pemilu secara komprehensif, setiap kebijakan yang diambil akan memiliki legitimasi dan dapat diterima publik.’
Pemaparan materi Bedah Buku
Buku ini memiliki 6 bab, mulai dari sistem pemilu, penataan dapil, verifikasi partai, desain surat suara, pencalonan hingga kampanye dan dana kampanye. Pesan utama yang ingin disampaikan adalah sistem pemilu bukan sekedar aturan teknis, tetapi sarana menjaga kedaulatan rakyat, kesetaraan suara dan stabilitas pemerintah.
“Demokrasi electoral bergantung pada keseimbangan antara representasi, integritas dan stabilitas pemerintah. Sistem proporsioanl terbuka memberi peluang besar bagi Perempuan, pemuda dan kelompok minoritas, namun juga menghadirkan tantangan berupa biaya kampanye tinggi dan politik uang.” disampaikan oleh Dr. Faisal. Ia juga menambahkan bahwa penataan dapil harus berlandaskan prinsip kesetaraan suara, integritas wilayah dan kesinambungan antar siklus pemilu.
Pertanyaan yang mengemuka
Diskusi berlangsung dengan interaktif dan beberapa pertanyaan muncul dari peserta kepada narasumber, diantaranya:
Bagaimana mengatasi malappottionment ?
Narasumber memberikan penjelasan bahwa Solusi utama adalah validitas data kependudukan dan konsistensi regulasi, “tanpa data yang akurat, penataan dapil akan selalu menimbulkan distorsi representas.”
Apakah system campuran bisa menjadi Solusi sistem pemilu di Indonesia ?
Dijelaskan bahwa sistem campuran memang bisa menjadi kompromi antara represtasu dan stabilitas, tetapi harus dikaji mendalam agar tidak menimbulkan kompleksitas baru.
Bagaimana menghadapi politik biaya tinggi ?
Dr. Faisal menekankan perlunya reformasi pendanaan politik dan transparasi dana kampanye. “High cost politics adalah musu Bersama, dan hanya bisa dikurangi dengan regulasi yang ketat serta pengawasan public”
Bedah buku seri I ini ditutup oleh Ketua KPU Kabupaten Labuhanbatu Selatan, dan diakhiri dengan sesi Foto Bersama. Kegiatan ini menegaskan bahwa demokrasi tiddak hanya dimulai dibilik suara, tetapi sejak proses desain sistem pemilu hingga pengawasa kampanye. Dengan memperkuat literasi kepemiluan, KPU Labuhanbatu Selatan berharap proses demokrasi ke depan semakin berkualitas, inklusif dan berintegritas.